April 20, 2021

ACEHNATIONSLPOST

Portal Berita Aceh

Efektifkan vaksin yang ada, epidemiolog: Berikan kepada kelompok rawan


ILUSTRASI. Warga kelompok lanjut usia menunggu dalam antrean sebelum menerima vaksinasi Covid-19 di Kampus Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Hang Jebat, Jakarta Selatan. ACEHNATIONALPOST/Fransiskus Simbolon

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Herlina Kartika Dewi

ACEHNATIONALPOST – JAKARTA. Epidemiolog dari Griffith University di Australia, Dicky Budiman mengatakan, target yang dicanangkan pemerintah untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dalam rentang waktu setahun dinilai kurang realistis.

Dicky menyebut realistisnya ialah Indonesia dapat menyelesaikan vaksinasi bagi 181,5 juta masyarakat selama rentang waktu 2 – 3 tahun. 

“Saya sampaikan program vaksinasi kita realistisnya di dua atau tiga tahun sejak awal sudah saya sampaikan. Dua sampai tiga tahun itu adalah rentang waktu yang realistis,” kata Dicky saat dihubungi ACEHNATIONALPOST pada Senin (29/3).

Maka melihat hal tersebut, pemerintah diminta untuk membuat kontijensi plan, dari sisi stok. Dari sisi stok dapat dipilih dengan menambah opsi pilihan vaksin dari luar untuk impor, namun hal itu akan cukup berat.

Maka hal realistis yang dapat dilakukan lainnya ialah percepatan riset vaksin dalam negeri. 

Baca Juga: Bio Farma bersiap menerima lagi bahan baku vaksin Covid-19 dari Sinovac bulan depan

“Percepatan di sini bukan berarti harus segera, tapi dukungannya untuk jangan sampai terlambat kendala dana dan sebagainya. Karena kita akan sangat terbantu kalau ada riset vaksin Merah Putih yang berhasil dan pilihannya harus banyak sehingga pemerintah harus mendorong riset-riset vaksin ini di dalam negeri,” jelasnya.

Selain kontijensi plan dari sisi stok, Dicky juga menjelaskan perlu mengefektifkan vaksin yang saat ini masih tersedia. Adapun vaksin yang ada saat ini dapat diefektifkan kepada kelompok masyarakat yang memiliki tingkat kerawanan tinggi untuk tertular Covid-19.

“Mengefektifkan vaksin yang ada saat ini yang ditujukan kepada kelompok yang paling rawan di masyarakat yakni lansia, pekerja esensial dan mereka yang punya komorbid. Itu yang harus dipastikan,” tegasnya.

Selain kelompok lansia menjadi prioritas penerima vaksin yang masih ada saat ini, Dicky juga mengungkapkan perlu diprioritaskan vaksin kepada kelompok masyarakat yang memiliki komorbid. 

“Karena komorbid berperan dalam peningkatan kesakitan dan kematian. Betul, lansia, guru, tenaga sekolah misalnya dan jangan lupa orang yang komorbiditas ini orang yang berisiko,” tutur Dicky.

Dicky menyebut perlu juga dikejar untuk pengadaan vaksin bagi program vaksinasi gotong royong. Namun ia menggarisbawahi untuk komponen penting yang perlu diperhatikan dalam jenis vaksin yang digunakan ialah halal, aman dan memiliki efikasi yang tinggi.

Target vaksinasi saat ini ditujukan untuk menurunkan tingkat kesakitan dan kematian karena virus Covid-19. Terkait pencapaian herd immunity, menurut Dicky merupakan target jangka panjang.

Baca Juga: Sentra Vaksinasi Bersama Jatim dibuka, Petrokimia Gresik kerahkan dukungan

“Herd immunity itu sulit untuk dicapai pada level global sekalipun. Jadi kita saat ini fokusnya adalah dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian,” imbuhnya.

Herd immunity sedikit kemungkinan tercapai lantaran adanya beberapa faktor, seperti adanya masyarakat yang masih menolak atau ragu-ragu terhadap vaksin, pelaksanaan vaksinasi yang terkendala supply, distribusi, dan operasional. Serta munculnya varian baru dari virus Covid-19 itu sendiri.

“Tidak semua seberuntung Amerika, kemudian muncul banyak varian baru ini jadi tantangan besar yang membuat herd immunity itu luar biasa jauh,” ungkapnya.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di ACEHNATIONALPOST Store.





Source link