Laporan WHO soal asal usul corona yang tidak kredibel membuat ilmuwan marah


ILUSTRASI. WHO baru saja merilis laporan yang berupaya mengungkap asal-usul pandemi virus corona. Namun banyak pihak yang skeptis menanggapi laporan itu. REUTERS/Aly Song

Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

ACEHNATIONALPOST – WASHINGTON. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja merilis laporan yang berupaya mengungkap asal-usul pandemi virus corona. Namun, laporan tersebut ditanggapi dengan skeptisisme yang kuat dari Washington.

Salah satu hasil laporan WHO yang mendapat kritik paling tajam adalah sangat tidak mungkin virus berkembang biak melalui insiden laboratorium. 

Meskipun sebagian besar ilmuwan tidak meyakini bahwa virus berasal dari laboratorium, namun sejumlah klaim WHO belum secara meyakinkan menunjukkan bahwa salah satu dari beberapa skenario itu lebih mungkin terjadi.

“Hipotesis kebocoran lab masih dibahas. Laporan ini hampir tidak memberikan kontribusi apa pun bagi pemahaman kami tentang hipotesis itu,” kata ahli mikrobiologi Stanford, David A. Relman dalam email kepada Yahoo News. 

Baca Juga: Soal kemungkinan kebocoran laboratorium China, WHO siap kerahkan misi tambahan

Dirilis pada hari Selasa (30/3/2021), laporan WHO tersebut mengatakan bahwa “limpahan zoonosis” seperti kelelawar buah yang menggigit manusia di hutan belantara sangat mungkin terjadi. Dalam laporan tersebut, para peneliti juga menyebut penyebaran melalui produk makanan beku mungkin terjadi, tetapi jarang ditemukan. 

Skenario yang paling mungkin, kata para peneliti, adalah virus yang memasuki spesies manusia melalui “inang perantara”, seperti trenggiling.

Baca Juga: WHO rilis penyelidikan asal usul virus corona penyebab Covid-19, ada 4 kemungkinan

Pertanyaan tentang etiologi virus berkaitan erat dengan geopolitik dan juga sains. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena hubungan antara China dan Amerika Serikat tampaknya semakin tegang dari hari ke hari. Pada hari yang sama saat laporan itu dikeluarkan, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan perlakuan China terhadap populasi Uighur, etnis minoritas yang menganut agama Islam, sama dengan “genosida”.






Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *